Sastra dan Pandemi: Sarana Edukasi dalam Membangun Kreativitas dan Penguatan Karakter

bakpti.unisma.ac.id, 18/07/20. Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat Kota Malang yang bekerja sama dengan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Islam Malang telah sukses mempersembahkan seminar daring yang bertajuk sastra dan pandemi. Kegiatan yang dilakukan Jumat, 17 Juli 2020 pada pukul 13.00-16.00 WIB telah menyita penggiat sastra Kota Malang dengan berbagai segmentasi profesi, mulai dari pelajar, mahasiswa, guru, dan dosen. Bahkan, juga disaksikan oleh sastrawan kondang Budi Darma. Seminar ini dipranatacarai oleh ketua progam BIPA Unisma Elva Riezky Maharany, S.Pd., M.Pd. dengan menggunakan aplikasi zoom meeting. Tema sastra yang diangkat memang lebih pada penyikapan sastra di era pandemi. Sastra yang menjadi warna dalam mengedukasi dan membangun kreativitas sebagai penguatan karakter.

Seminar ini dimoderatori oleh Dr. Ari Ambarawati, M.Pd. dengan 4 narasumber dan 1 pembicara utama Prof.  Dr.  Setya Yuwana Sudikan,  M. A. dari Universitas Negeri Surabaya. Keempat narasumber diambil dari perwakilan dosen penggiat sastra di 4 universitas, yaitu Yusri Fajar,  M. A. (Universitas Brawijaya), Dr.  Arief Budi Wurianto, M. Si (Universitas Muhammadiyah Malang), Dr.  Halimi Zuhdy,  M. Pd.,  M. A. (Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang), dan Dr.  Ahmad Tabrani,  M. Pd. (Universitas Islam Malang).  Keseluruhan pemateri membawa subtopiknya masing-masing seputar sastra di masa pandemi dengan kajian sastra tradisi lisan pada era normal baru sebagai menu utama yang disampaikan oleh pembicara utama. Acara yang berlangsung empat jam dikemas dengan 3 sesi dengan 2 sesi oleh keempat narasumber dan 1 sesi terakhir oleh pembicara utama.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA KUNJUNGI www.unisma.ac.id

Yusri Fajar,  M. A. merupakan dosen penggiat sastra dari Universitas Brawijaya. Ia  telah memukau audien dengan membawa topik kehidupan masa pandemi sebagai inspirasi penciptaan karya sastra. Faktanya bisa ditemukan dalam rubrik sastra di media massa pada masa pandemi ini, yakni sastrawan merespon dan terinspirasi situasi masa pandemi sebagai bentuk umpan balik atas wabah yang juga mengancam dirinya. Oleh karena itu, rubrik sastra yang hadir di masa pandemi banyak diisi karya sastra tentang pandemi. Fakta lainnya muncul sastra koran yang dikatakan sebagai karya sastra menengah, dengan maksud sekumpulan karya sastra dalam koran yang membuat penulis karya sastra pandemi mulai menggayungkan idenya dengan segala keterbatasan pengetahuannya tentang pandemi, akhirnya muncul prosa, puisi, naskah drama yang justru lebih mengarah pada pandangan sepihak penulis. Pandangan tersebut mengarah pada surealis (imajinasi liar) atau realis (gambaran kehidupan) di masa pandemi.

Pandangan berbeda oleh Dr.  Arief  Budi Wurianto, M. Si dari Universitas Muhammadiyah Malang yang membawa topik sastra Indonesia dan holocaust. Sastra dianggap mempunyai rasa tersendiri untuk ditanggapi sebagai kegiatan rekreatif dengan banyak tragedi kemanusian yang diangkat ke dalam karya sastra. Tanggapan sastra dengan tema kengerian, bencana, peperangan, pageblug, kelaparan, dll. merupakan salah satu wujud sastra yang mempunyai nuansa tragedi tersendiri saat diselami. Keadaan holocaust memuat pembaca sastra dibayang-bayangi ketakutan dalam masa pandemi. Mayarakat awam sastra akan lebih kasihan lagi di situasi saat ini, karena mereka hanya akan menggunakan pandangan visualnya tanpa mengawinkannya dengan hati. Artinya, rasa yang muncul dalam bahasa karya sastra dengan banyak tema pandemi harus benar-benar disaring untuk mensugestikan pikiran bahwa keadaan ini akan mempunyai metafor yang indah saat sastra mulai dijamah dengan sudut pandang yang lain.

Hal menarik disampaikan oleh Dr.  Halimi Zuhdy,  M. Pd.,  M. A. dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang lewat topiknya tentang relegiuitas sastra dan pandemi. Banyak yang tidak mengetahui bahwa sastra sangat erat dengan relegiuitas, ditemukan ketenangan penikmat sastra dalam menanggapi masa pandemi saat relegiuitas berpengaruh besar dalam pikiran. Saat sastra mulai berkelana dalam karya sastra akan memunculkan efek moralitas, religius, estetis, rekreatif, dan didaktif yang mampu membius penikmatnya dengan berbagai macam reaksi.  Dr.  Ahmad Tabrani,  M. Pd. selaku penggiat sastra dari Universitas Islam Malang telah menyatakan lewat topiknya sastra era pandemi bahwa segala bentuk reaksi yang mengatakan sastra kurang beruntung hanya karena sastra sebagai media ekspresi kegelisahan di masa pandemi adalah salah, justru sebaliknya sastra sebagai media untuk melukiskan pandemi yang indah.

INFORMASI SEPUTAR PENDAFTARAN MAHASISWA BARU pmb.unisma.ac.id

Kegelisahan yang muncul atas dasar sastra dalam pandemi juga tidak luput dari tradisi lisan yang diungkapkan oleh pembicara utama Prof. Setya Yuwana Sudikan,  M. A.. Penggiat  sastra dari kampus Universitas Negeri Surabaya menyatakan bahwa pergesaran tradisi lisan pada tradisi pandang juga menjadi perhatian saat ini. Namun, tidak dipungkiri bahwa tradisi lisan telah bangun dari tidurnya. Budaya bercerita yang selama ini tertidur, telah bangun lewat kegiatan merdeka belajar, dimana yang belajar tidak hanya anak tetapi orang tua juga ikut berkontribusi. Kegiatan berdiskusi dan bercerita sebelum tidur telah banyak dilakukan. Walaupun tidak bisa dipungkiri, hal itu tetap melalui proses dimana ketakukan bahwa peran orang tua dan guru digantikan oleh segenggam gawai. Sastra yang bertugas memilah hati dan rasa memang harus kembali pada kodratnya bahwa sastra sesungguhnya akan mengembalikan peran orang tua untuk mendidik anak.

***

*)Penulis: Helmi Wicaksono, Technical Editor Open Journal System FKIP, Dosen Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Islam Malang (UNISMA).

*)Tulisan Asli Opini ini di muat di  timesindonesia.co.id (https://www.timesindonesia.co.id/read/news/284471/sastra-dan-pandemi-sarana-edukasi–dalam-membangun-kreativitas-dan-penguatan-karakter)

You may also like...

Popular Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp chat